Senin, 05 Mei 2014

Duhai Raja Dangdut

Polemik terkait pengangkatan Rhoma Irama sebagai Senjata Utama calon Presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa sedikit banyak telah menyita perhatian saya ( halah! ), hehe, sejujurnya ini adalah intermezzo pembuka yang wagu, tapi tak apalah. Hanya pembelaan saya saja. Sebenernya, Politik buat dicerna oleh Pemuda 17 tahun agak Tabu ya ( Nggo opo ngono lho, bay! ).

Jadi maaf kalo postingan ini agak berat dan serius buat anak kecil. Anak kecil mimik susu aja dirumah.

Yap, sedikit tanggapan ngawur tapi subjektif dari saya terhadap pencipta tembang 'Begadang' ini terkait kiprahnya di Indonesia.

Dalam proses pencalonannya sebagai presiden, Tokoh yang sering juga dipanggil dengan panggilan Bang Haji ataupun Wak Haji ini lebih banyak mendapat cacian ketimbang pujian. Hal ini tentu sangat beralasan, karena betapapun juga, nama Rhoma memang sudah tak seharum dulu.

Sederet polemik telah mengerek turun nama baiknya, mulai dari peristiwa heboh pencekalan goyang ngebor Inul, sampai ajakanya untuk tidak mencoblos gubernur non muslim dalam ajang Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur DKI beberapa waktu yang lalu.

Jauh sebelum itu, Titik balik pudarnya pesona Rhoma tentu dimulai dengan pengakuannnya telah menikahi siri Angel Lelga (mantan pacar saya). Seperti yang kita tahu, pernikahan siri (kendatipun itu tak menyalahi aturan) adalah sebuah antipati bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih jika itu dilakukan oleh tokoh ternama. 

Pencalonan Rhoma sebagai Presiden oleh banyak orang dinilai sebagai lelucon belaka dan diangap hanya sebagai pendongkrak popularitas PKB semata. Bahkan sampai muncul kelakar bahwa tujuan Rhoma Irama untuk menjadi presiden sebenarnya adalah untuk merebut Ani dari tangan SBY (Wo gondes). Seperti yang kita ketahui, Ani adalah nama tokoh peran kekasih Rhoma Irama dalam Film Gitar Tua dan Berkelana yang diperankan oleh Yatie Octavia. Nama Ani ini kelak menjadi sebutan nama paten untuk peran kekasih Rhoma Irama dalam film-film lainnya.

Secara pribadi, saya memang kurang setuju jika Rhoma Irama jadi presiden, alasannya karena menurut saya, Rhoma Irama memang kurang punya kapabilitas sebagai seorang presiden. Hal ini makin terlihat menguat di mata saya saat saya melihat tayangan Mata Najwa edisi Rhoma Irama, dalam episode tersebut, terlihat jelas betapa Rhoma Irama agak gagap dalam menjawab pertanyaan Najwa Shihab perihal kenegaraan, hal itu bagi saya adalah parameter yang jelas bahwa Rhoma memang belum siap untuk berkiprah menjadi presiden.

Lagipula kan, Bangsa ini sedang menantikan sosok Satria Piningit, bukan Satria bergitar.

Namun begitu, saya sangat-sangat tidak suka jika ada banyak pihak yang kemudian meng-underestime-kan beliau atau bahkan sampai menggoblok-goblokkan dan mengkonyol-konyolkan beliau.

Karena jelas beliau dan grup musiknya Soneta ikut membangun akhlak bangsa ini dengan Syair dan Syiar. Bersama Soneta dan ditemani oleh gitar amputasi-nya, beliau sukses mengguncang jagad hiburan Indonesia, juga sukses "mencuci-otak" masyarakat dengan lagu-lagu-nya. Ia punya banyak sekali penggemar. Bahkan berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film- film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984.

Tentu tak terhitung berapa jumlah anak yang kemudian mendapatkan pencerahan untuk lebih berbakti kepada ibu-nya setelah mendengarkan lagu "Keramat". Tak terhitung pula berapa remaja yang tercerahkan untuk menjauhi minuman keras dan narkoba setelah mendengarkan lagu "Mirasantika". Hal ini masih belum termasuk dengan lagu-lagu lain yang syairnya sebagian besar berisi ajakan untuk berbuat baik dalam berakhlak dan bermasyarakat.

Dangdut-nya Rhoma (dan Soneta) tentu berbeda jauh dengan dangdut koplo. Saya melihat, dangdut koplo lebih terkonsentrasi untuk menampilkan sisi hiburan (plus birahi)-nya, sedangkan dangdutnya Rhoma lebih menekankan kepada syiar dan pengedukasian masyarakat daripada sisi hiburannya.

Bahkan Tagline goyang keduanya pun jauh berbeda. Tagline koplo adalah "Ayo goyang sing penting ojo jotos-jotosan" sedangkan Tagline dangdut Bang Haji adalah "Mari bergoyang Asal masih dalam kesopanan dan keimanan" Jauh berbeda ya?

Hmm.. Pada akhirnya, saya sih hanya ingin menyampaikan bahwa saya kurang setuju kalau Indonesia harus dipimpin oleh Rhoma, menurut saya, Bang Haji bisa ikut memberikan sumbangsih lebih besar untuk membangun bangsa ini tanpa harus menjadi presiden. Entah dengan menjadi musisi kebangsaan, atau dengan menjadi motivator religi berbasis nada dakwah. Tapi yang pasti, bukan sebagai Presiden. 

Lagipula, sebagai blogger amatiran yang doyan melek malam, saya takutnya nanti kalau Rhoma Irama jadi presiden, begadang tidak diperbolehkan, karena begadang tiada artinya...Tsah!

Jadi, pembaca sekalian silahkan berkomentar asalkan masih dalam Kesopanan dan Keimanan. :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar