Jumat, 09 Mei 2014

Problematika Dalam Pacaran

Pacaran, suatu tingkat hubungan lebih lanjut setelah kita mengalami masa Menjomblo. Manusiawi emang, jikalau seorang anak manusia mengalami perasaan jatuh cinta, rindu, cemburu bahkan sakit hati. Namun hal itu menjadi masalah apabila kita sudah terlalu berlebihan dalam penerapannya sehari-hari.

Kadang saya merasa heran pada mereka yang terlalu bahagia pada masa awal-awal pacaran, dan galau yang berlebihan pas udah bubaran. Bahkan sampai lupa makan, nangis di pojokan kamar sambil dengerin lagu Gugur Bunga, terus showeran sambil nangis "KENAPA HIDUP INI NGGAK ADIL?! AKU LELAH TUHANNN!!". Oke, itu lebay.

Nggak jarang juga dari mereka yang sampai bertengkar gara-gara pacarnya direbut atau ketika tahu kalo pacarnya selingkuh. Ini kan konyol.
Kalo dia udah Selingkuh, logikanya, berarti dia kan udah nggak sayang lagi sama kita. Terus buat apa dipertahanin? Mending lepasin aja. Mubadzir rasa sayang-nya kan?

Banyak juga yang masih pacaran, tapi kelakuan keduannya udah kaya Suami-Istri sah. Kalo udah gitu, ujung2nya hamil diluar nikah. Married by accident.

Tapi kadang, Cinta juga bisa ngerubah sikap kita. Dari yang dulu males2an ke Sekolah, sekarang jadi semangat karena pacarnya satu sekolahan. Dari yang dulunya fungsi HP cuma buat ganjel pintu, sekarang udah dipake telponan berjam2.

Salah satu problematika Kaum Pacaran abad 21 adalah, "PEKA". Saya sendiri bingung, gimana caranya biar bisa Peka sama pacar tiap waktu? Pacar juga manusia keles.

Apalagi kaum pria, selalu aja jadi Kambing Hitam ceweknya. Sasaran amarah dan caci-maki.
Dan kaum pria hanya bisa melambaikan tangan a.k.a pasrah. Persis kayak acara di TV yang pesertanya dadah2 nyerah karna liat setan.

Kasihanilah kami wahai hawa.. *sambil tangan menengadah*

Contoh cowok selalu jadi 'Black Goat' ceweknya gini..
Misal kamu lagi jalan bareng pacar di toko boneka gitu, terus kamu disuruh duduk nunggu si cewek milih boneka. Barengan cowok2 yang senasib kayak kamu. Tiba2 pacar kamu manggil..

Cewek: "Ay, sini dong." *pacar memanggil dengan nada lembut.*

Cowok: "Iya sayang, ada apa?" *nada Bebi Romeo*

Cewek: "Boneka yang Ungu sama yang Pink bagusan mana, yang?"

Cowok: "Emm.. yang mana ya?" *bingung* *tapi nada tetep Bebi Romeo*

Cewek: "Gimana yang?" *mulai nggak sabar*

Cowok: "Terserah kamu aja deh, yang!"

Cewek: "KAMU INI GIMANA SIH!! JADI COWOK KOK NGGAK PEKA!! *teriak nada seriosa*

Cowok: *mulai bingung*
               "Emm.. emm.. yang Pink aja deh, yang." *sambil mrenges*

Cewek: "APAAA?! YANG PINK?!! KAMU TAU NGGAK SIH, AKU BENCI BANGETT
              WARNA  PINK!!" *kemudian berubah jadi Hulk*

Cowok: *kemudian pura-pura mati*

Saya dulu juga pernah nanya2 sama temen cowok saya yang juga Jomblo. Meskipun lebih ngenes saya.
Katanya, pacaran itu ruwet, repot, banyak tuntutan. Intinya, bisa bikin kita nggak jadi diri sendiri. Menurut saya juga gitu. Tapi ini relatif sih, tiap orang beda-beda.

Sebenernya, pindah status dari Lajang ke Berpacaran adalah tahapan kita juga jadi dewasa. Apalagi ditambah dengan asam garam, cacaian, cambukan, dan pukulan. Kita jadi lebih kuat. (Ini pacaran apa KDRT?). Yang saya maksud adalah Masalah, dengan masalah kita bisa lebih dewasa menghadapinya dan yang terpenting kita nggak lari dari itu.

Pacaran juga nggak selalu tentang smsan, bbman, telponan dan lain2. Pacaran itu tentang saling percaya satu sama lain, agar hubungan tetap terjaga. Kalau pun berakhir, juga harus dengan cara baik-baik.
Bersatu dengan baik2, berpisah ya juga harus baik2.

Saya nggak lagi kesurupan Mario Teduh lho..

Beidewei, 

Mengutip salah satu quote dari RadityaDika,

"Cinta itu harus tanpa keraguan. Hanya kenyamanan yang dibagi dua orang yang sama-sama saling tau bahwa kita ada untuk selamanya."

Setuju banget sama quote satu ini, kalo dalam Kehidupan Percintaan itu nggak perlu ada keraguan.
Dan yang paling penting masing2 individu bisa saling berbagi kenyamanan. Nice one.

Semoga postingan ini bermanfaat. Salam lemper!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar